aKu...

SuHenDar HiLmi

Selasa, 19 Januari 2010

makalah koe.......system education of rosul

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ucapan hamdallah kita panjatkan sebagai implementasi rasa syukur kita kehadirat Ilahi Rabbi yang telah memberikan kita kekuatan fikir dan dzikir. Dialah Tuhan yang patut kita sembah karena kemurahan dan kedermawanNya kita masih diberi kesempatan mengisi alam ciptaanNya ini, walupun kadang kita suka sombong dengan apa yang kita miliki padahal sesungguhnya hal itu milik Allah semata. Shalawat beserta salam selalu dan senantiasa kita curahkan kepada revolusiner Islam, yakni Nabi Muhammad Saw, yang menjadi petunjuk dan pengarah jalan keselamatan, kepada keluarganya, para sahabatnya dan para a’tbaut tabiin dan sampai kepada kita sebagi umat yang selalu berusaha untuk bisa ta’at kepadanya.
Dengan diawali basmalah dan diakhiri hamdalah, kami kelompok V (lima) dalam kegiatan OPAK (Orientasi Pengenalan Akademi) STAI Sukabumi, telah selesai membuat makalah dengan tema “Mahasiswa Islam dan Pendidikan Agama Islam”.Dan mengambil judul SISTEM PENDIDIAKN ALA RASULULLAH Saw.
Semoga makalah tipis dan singkat ini menjadi perubahan besar bagi sistem Pendidikan yang ada di negeri tercinta ini.

B. Rumusan Masalah
Makalah Sistem Pendidikan ini diambil dari beberapa rumusan berikut :
1) Bagaimana Sistem Pendidikan yang ampuh yang dilakukan Nabi Muhammad Saw.
2) Apa-apa saja tahapan Sistem Pendidikan yang dilakukan Nabi Muhammad Saw.
3) Apa saja bukti keberhasilan dan keunggulan sistem pendidikan yang diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw.

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1) Sebagai syarat dalam mengikuti kegiatan OPAK STAI Sukabumi;
2) Untuk menambah wawasan dan pengalaman dalam menyusun dan menulis makalah;
3) Mengimplementasikan ilmu yang telah kami dapatkan.


BAB II
PEMBAHASAN


A. SISTEM PENDIDIKAN ALA RASULULLAH

Sistem adalah suatu cara atau metoode dalam suatu hal yang terkandung atau mendukung misi untuk mencapai visi. Pendidikan ada dua istilah yang hampir sama bentuknya, yaitu paedagogige dan paedagogiek. Paedagogie artinya pendidikan sedangkan Paedagogiek berarti ilmu pendidikan.(Drs. Ngalim Purwanto:1987)
Jika kita menyimak segala aspek kehidupan Rasulullah Shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam, maka ia akan menemukan lautan keajaiban-keajaiban yang seolah tiada tepinya. Baik itu dalam cara beliau memimpin, cara beliau bergaul termasuk cara beliau mendidik. Di sana akan terlihat jelas, bagaimana dengan sarana dan prasarana yang minimal, beliau menapatkan hasil yang maksimal.
Mendidik atau memberi pendidikan pada dasarnya merupakan profesi mulia. Semua Nabi dan Rasul merupakan pendidik umatnya. Dalam The Prophet’s School: Lessons & Lights, M. Bassam Rushdi al-Zayn menyatakan bahwa semua Rasul mengemban misi pendidikan dengan membawa nilai-nilai kasih sayang, kedamaian, dan kebajikan. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW misalnya menyatakan diri: “Aku diutus oleh Allah sebagai pendidik” (HR Malik); dan “Aku diutus sebagai bukan pelaknat, melainkan penebar rahmat” (HR Muslim). (Deskof Zakaria, S.T. Oktober 30, 2008 )
Sistem pendidikan yang tidak tentu, yakni berubah-ubah sulit untuk direalisasikan bahkan mungkin menjadikan suatu hambatan dalam mengoptimalkan pembelajaran. Kasus seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi dalam bidang pendidikan secara terus menerus. Masalahnya itu bukanlah suatu tujuan dari pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar (KBM). Tujuan dari KBM yang diatur melalui sistem pendidikan yang tetap dan tersusun adalah terciptanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, berilmu yang luas dan dapat mengimplementasikan ilmunya.
Sistem pendidikan yang menunjang dan menjadi pendorong (motivator) terwujudnya KBM yang baik dan terarah bukan hanya mengedepankan pendidikan umumnya (IQ) saja tapi harus seimbang dengan pendidikan moralnya juga (EQ, SQ).
Pihak yang berkewajiban menyusun dan menciptakan system pendidikan yang mengarah kepada tujuan yang ingin dicapai, bukan hanya Menteri Pendidikan saja, bukan guru di sekolah saja, tapi yang tidak aklah penting adalah keluarga sebagai lingkungan awal yang lebih dominant karena memunyai waktu atau kapasitas lebih di banding dengan lainnya.
Sistem pendidiakn efektip khususnya untuk pembelajaran pendidikan nonformal dikarenakan untuk pendidiakn yang formal system pendidkannya terikat dengan perundang-undangan yang telah ditetapkan, yaitu system pendidikan yang sistematis dan saling mendukung. Sistem itu telah dicontohkan oleh Rosulullah Saw dalam menuyeebarkan agama Islam.

B. TAHAPAN SISTEM PENDIDIKAN ALA ROSULULLAH

Kehidupan Rosulullah adalah suritauladan bagi umatnya. Jadi jelas segala prilaku Rosul merupakan cerminan yang harus kita turuti. Seperti halnya dalam menyusun system pendidikan yang telah terbukti dasn teruji keberhasilannya dengan waktu yang begitu singkat mampu menyebarkan pendidikan Islam ke seluruh pelosok dunia. Tahapan sistem pendidikan yang digunakan adalah :
• Kudwah adalah contoh (memberi contoh). Sistem pendidikan yang pertama diterapkan Rosul adalah memberi contoh sebelu ke tahap yang berikutnya. Sistem Pendidikan ini adalah sistem yang paling sulit untuk direalisasikan karena membutuhkan kesungguhan dari kedua belah pihak( Guru/orang tua dasn siswa). Misalnya jika seorang guru menginginkan agar siswananya berpakaian yang rapi maka gurunya terlebih dahulu harus berpakaina rapi, jika guru mengharapkan siswanya masuk sekolah tepat waktu tidask terlambat maka gurunya harus masuk lebih awal dan juga apabila guru menginginkan agar siswanya tidak merokok maka gurunya juga jangan merokok bahkan dituntut untuk melarang jangan sebaliknya, mungkin hal inilah yang disebut lebih sulit.
• Mauidzoh adalah peringatan. Sistem yang kedua ini merupakan kelanjutan dari yang pertama apabila yang pertama tidak berhasil, guru sudah memberi contoh tapi siswa masih susah untuk belajar(nakal) maka tugas guru atau orang tua yang selanjutnya yaitu memberi peringatan yang bersifat mendidik sambil memotivasi siswa untuik rajin belajar. Namun, apabila system yang kedua ini tidak ampuh atau berhasil maka langkah yang selanjutnya gunakan system atau jurus yang ketiga yaitu,
• Mulahadzoh adalah penelitian. Gunanya untuk mencari sumber atau penyebab yang mengakibatkan siswa itu susah untuk belajar atau diajak dalam hal kebaikan.Guru atau orang tua harus jeli atau teliti mencari jawaban faktor ap[a yang menyebabkan siswa susah untuk belajar, apa mungkin dari tempat bermainnya, apa mungkin dari factor yang dimakan dan diminumnya atau mungkin cerminan orang yang dipatuhinya(guru/orang tua/teman). Mungkin timbul pertanyaan “Kenapa harus meneliti fakto-faktor seperti itu” Jawabannya, karena factor-faktor di atas sangat memngaruhi pola pikir hidup seseorang apalagi anak usia sekolah. Dan apabila penyebab itu seperti yang di atas , maka kewajiban guru atau orang tua untuk mengubahnya dan jangan segan-segan untuk selalu mengintrosfeksi diri demi terwujudnya system pendidikan yang baik. Tapi, seanandainya system/jurus yang ketiga masih tidask mampu/berhasil, maka gunakan system yang keempat atau mungkin jurus yang terakhir setelah diberi contoh masih susah, diberi peringatan sampai kepada tahap penelitian masih tetap susah untuk belajar maka gunakan system yang keempat yaitu,
• Ukubah adalah sanksi. Namun harus diingat, pemberian sanksi yang akan dijatuhkan harus sesuai dengan tingkat kenakalan siswa, jenis kenakalan dan volume atau jumlah bilangan kenakalan itu dilakukan anak/siswa, kedua atau kesekian kalinya. Kenapa? Karena masih terdapat dalam pemeberian sanksi yang berlebihan sehingga melukai fisik anak, hal itu bukan termasuk tahap sistem pendidikan yang baik seperti yang diajarkan Rosulullah Saw. Salah satu visi profetik Nabi SAW yang relevan dengan pendidikan antikekerasan adalah bahwa “Kemuliaan dan kebahagiaan seseorang itu dapat tercipta jika seseorang itu selalu menebarkan salam, memberi makan bagi yang kaum fakir, menyambung tali silaturrahim, qiyamul lail (shalat malam) pada saat orang lain tidur.” (HR Muslim). Disarankan dalam peneraapn sistem yang keempat ini untuk tidak kontak fisik antara anak dengan guru/orang tua, jadi sanksi yang diberikan harus yang bersifat mendidik dan dengan pengawasan yang kontinu karena hal itu lebih epektif .

B. FAKTOR DASAR SISTEM PENDIDIKAN ALA RASULULLAH

Untuk mendukung sistem di atas kita juga harus menanamkan empat dasar yang dapat memengaruhi keberhasilan dalam penerapan sistem belajar.
Pertama adalah bahwa basis pendidikan Rasulullah bangun adalah Iman. Hingga dengan keyakinan inilah, kemudian muncul pribadi-pribadi yang bisa mengendalikan diri dan pribadi-pribadi yang meyakini bahwa apa pun yang mereka lakukan kelak akan dimintai pertanggungan jawaban oleh Allah SWT. Sehingga akhirnya dari pancaran keimanan ini muncul pribadi-pribadi yang jujur, bertanggung jawab, amanah dan berakhlak mulia.
Kedua adalah bahwa Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam menjadikan akhlak sebagai bagian yang sangat penting dalam proses pembinaan ummat yang beliau lakukan. Hal ini beliau sampaikan dalam khutbah-khutbah yang beliau lakukan. Disamping itu, dalam kesempatan berbincang-bincang dan bergaul dengan para sahabat, beliau sangat menekankan aspek akhlak ini kepada mereka. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bahwa Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam memberikan contoh konkret bagaimana bentuk akhlak yang mulia ini melalui perilaku belau sehari-hari. Hingga dari hasil pendidikan akhlak yang beliau lakukan, lahirlah insan-insan yang berbudi pekerti mulia. Dan ternyata kelak akhlak mulia yang dimiliki para sahabat ini menjadi modal yang besar bagi mereka dalam meraih kesuksesan dalam perjuangan yang mereka lakukan.
Ketiga adalah pendidikan berbasis minat dan bakat. Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam sangat tahu bahwa masing-masing sahabat beliau memiliki kelebihan-kelebihan dan keunikan-keunikan yang satu berbeda dengan yang lain. Karena itulah, beliau tidak membebani mereka untuk melakukan sesuatu yang diluar bakat dan kapasitas alamiah mereka. Hingga akhirnya timbuhlah manusia-manusia istimewa dengan basis bakat alamiah mereka masing-masing.
Seperti contoh Khalid bin Walid misalnya. Ia dari awal memiliki bakat kemiliteran yang menonjol. Karena itulah, Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam membina Khalid agar menjadi panglima perang yang handal. Bukan menjadi ahli pengobatan atau ahli hukum. Zaid bin Haritsah lain lagi. Sahabat Nabi yang satu ini memiliki minat dan bakat dalam bidang berhitung dan bahasa asing. Maka sejak dini Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam membimbing Zaid sehingga ia menjadi ahli faroidh ( hukum waris ) disamping menjadi juru bahasa beliau dan sekretaris pribadi. Sementara Abdurrahman bin Auf memiliki bakat di bidang perdagangan. Maka beliau pun membinanya hingga akhirnya Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu konglomerat Islam yang banyak memberikan sumbangan harta bagi kejayaan Islam dan kaum muslimin. Demikian juga dengan para sahabat yang lain. Mereka dibina oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam sesuai dengan bakat mereka masing-masing.
Keempat adalah pendidikan dengan basis doa dan riyadhoh ( tirakat ). Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam mengajarkan bahwa doa adalah sesuatu yang penting bagi setiap mukmin. Dan beliau pun memberi contoh bagaimana berdoa dalam berbagai situasi dan kondisi. Dengan berdoa dan riyadhoh, potensi lahiriah yang sebenarnya terbatas dapat dilipat gandakan dayagunanya sehingga dapat melebihi keadaan apabila tidak disertai doa.
Dengan demikian, upaya yang dilakukan bukan sekedar bertumpu pada kemampuan lahiriyah, namun juga didukung oleh ” kuasa langit ” sehingga kesuksesan dan kejayaan bisa diraih. Inilah yang juga sangat ditekankan oleh Al Qur’an dan Sunnah. Karena itulah, jika kita melihat kehidupan para sahabat Nabi, mereka ternyata adalah pelaku-pelaku olah spiritual yang sangat kuat dan ini menjadi salah satu rahasia kesuksesan dalam hidup mereka.
Dari semua sistem pendidikan di atas, hingga akhirnya muncul sekelompok manusia dengan keunikan masing-masing, berakhlak mulia serta dengan modal keimanan dan laku spiritual yang kuat, yang menyatu dalam Jama’ah Islam, bergerak dalam satu komando untuk menegakkan agama Allah SWT. Inilah rahasia mengapa pendidikan yang beliau lakukan membuahkan hasil yang gemilang.


BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
Pendidikan dalam Islam memegang peran sentral karena memproses manusia untuk memiliki equilibrium antara dar al-akhirah dengan dar al-dunya; keseimbangan religius-spirit dengan profan-materi. Secara edukasi Nabi Muhammad saw mengajak pengikutnya untuk meninggalkan kegelapan spiritual, mental dan intelektual. Gerakan pendidikan yang diusung Nabi mempunyai mainstream liberasi yang kuat. Dengan didukung system pendidiakn yang sistematis : kudwah, mauiszoh, mulahadzoh dan ukubah. Dan hal yan menjadi dasar untuk merelisasikan sistem itu harus ditanamkan empat dasar dalam diri anaka/siswa : iman yang teguh, akhlak yang mulia(akhlakul karimah), minat dan bakat dan yang terakhir adalah do’a yang senantiasa dipanjatkan.

b. Saran
Mendidik berarti memimpin anak/siswa, gunakanlah sistem yang sistematis dan telah teruji keberhasilannya. Dalam pelaksanaan di lapangan sistem pendidikan harus terus ditinjau baik dari segi efek yang didapat atau dari cara yang diterapkannya.
Demikianlah makalah Sistem Pendidikan Ala Rasulullah ini, akhirnya kami mengucapkan banyak terima kasih keapda semua pihak yang telah mendukung terselesaikannya makalah ini.
Dan kami pun menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangannya dan masih jauh dari kesempurnanya, untuk itu kami menanti masukan saran dan keritik yang bersifat membangun untuk perbaikan kedepannya. Perlu diingat Tiada teori yang lebih ampuh dari pada kita memulainya dari sekarang.

Daftar Pustaka
Purwanro, Drs. Ngalim MP. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis.
Fafa, Bapa’e. .2008.Mengintip Pelaksanaan Pendidkan Dunia Islam Di Masa Klasik.
Zakaria, S.T Deskof. 2008 .Mengapa harus nabawi ???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar