TUGAS TPKI
Nama : Suhendar
NIM : 2009.1038
Smtr : III B
Judul : KETIKA CINTA BERTASBIH 1 ( KCB )
Pemain : Azzam, Anna, Ayatul Husna, Furqon dkk.
Alasan : KCB adalah sumber inspirasi bagi yang suka berinovasi dan sumber motivasi bagi yang lemah dan berhenti
Tempat menonton : di kamar, sendirian.
Awal cerita…
Ada mahasiswa Al-Azhar Kario asal Indonesia yang udah sembilan tahun kuliah di Mesir. Disamping jadi mahasiswa Al-Azhar dia juga mengondol predikat tukang tempe plus tukang bakso, he….gak kebayang ya, jualan tempe di negri yang mayoritas makanannya mengandung daging dan gandum sebagai makanan pokoknya, kira-kira laku gak ya…tapi, biasanya yang asing itu banyak diincar orang dan mahal harganya, mungkin gak berlebihan kalau bakso di Kario tingkat pemasarannya sama dengan daging sapi di Indonesia. Apalagi kalau namanya bakso sapi pasti laris manis.
Disaat-saat tertentu Azzam juga suka nerima order kalau ada acara. Seperti dapet tawaran dari Bak Eliana nyiapin ikan bakar special buat bapak dan pamannya. Walaupun resep bikin ikan bakar gak tau, tapi karena putri dari kedubes itu ngajak ya mau gimana lagi, sikat aja… untung waktu itu dibantu Pak Ali yang udah tau sebuk–beluk Alexandria jadi gak terlalu susah nyari buku resepnya. Disamping itu supir pribadi Eliana juga bantu Azzam bikin bumbu buat ikan bakar special ala Azzam.
Yang namanya laki-laki normal dan lagi jomblo mahasiswa yang punya tiga adik itu suka melamun waktu ngobrol sama putri kedubes itu. Walau gak langsung ngeliatin kalau dia suka, apalagi kalau ditanya cinta pasti bilang tidak tapi tetep laki-laki itu kucing garong kalau liat yang mulus-mulus pasti matanya menjurus. Buktinya pas Azzam liat Eliana sama Furqon, dia gak jadi nganterin ikan bakarnya malah nyuruh orang. Cemburu ni yee…. Furqon adalah temennya Azzam, tapi mahasiswa yang sama dari Indonesia ini beda kuliahnya, dia jadi kandidat master sedangkan Azzam masih mencari gelar sarjana. Tapi mereka akrab banget mirip upin ipin film dari Negeri yang lagi konflik dengan NKRI itu. Waktu itu Furqon muji Azzam kalau dia bangga ada mahasiswa dari Negeri yang ber Ibu kota Jakarta itu sukses di Kairo. Azzam juga sama bangga kalau Furqon jadi kandidiat master yang sebentar lagi memperjuangkan tesisnya.
Karena kecapean abis bikin ikan bakar, Azzam pulang duluan jadi gak sempet ketemu sama actor bintang sinetron Dewi itu. Akhirnya Eliana nelpon Azzam karena dia janji kalau dia mau ngasih hadiah special tau ala mana mungkin ala Eliana. Sambil bisik-bisik, putri kedubes itu bilang kalau hadiah specialnya itu adalah ciuman. Setelah tau bahwa hadiah specialnya itu ciuman, Azzam bilang kalau itu bukan hadiah tapi musibah sambil “prak” nutup telpon,,hehe. Emang enak,,, Azzam dilawan. Sambil membaringkan tubuh, Azzam langsung narik selimut…tidur aah.
Keesokan harinya, Azzam ngobrol dengan supir pribadi kedubes. Banyak obrolannya, mulai dari kehidupan putri kedubes yang mau ngasih hadiah special sampai akhirnya Pak Ali nyeritain kalau Azzam cocok sama putri Kiayi Luthfi asal Solo yang gak jauh dari tempat keluarganya tinggal yang sama kuliah di Mesir. Tau kesambet apa, hati Azzam langsung jatoh cinta sama mahasiswa yang suka dipanggil Bak Anna itu. Pas denger di Mesir ada Pa’enya Azzam berniat silaturahmi ke rumah Pa’enya Anna itu. Lagi asik-asiknya ngobrol, datang temennya yang dari Madura ta’ yeu,,,,, katanya dia dicariin sama putri kedubes dan katanya marah sama sampean, mendengar cerita itu Azzam malah senyum, ” Emang kenapa Cha?, ” Sampean ini gimana, kalau pejabat ngambek suka bikin susah rakyat.”, ” Eliana kan bukan pejabat?”, ” Iya, kan bapaknya pejabat”. Begitulah obrolan Azzam sama tememnya yang berasal dari kota yang terkenal sama satenya ta’ yeu. Yang katanya mau Berenanglah...!
Sementara itu, Azzam masih memikirkan Anna, padahal dia gak tau kalau Anna Althofunnisa itu udah dikhitbah temennya, Furqon.
Karena kemarin Azzam bilang bahwa dapet ciuman itu musibah bukan hadiah, hal itu menjadi pemikirian Eliana. Akhirnya ia menanyakannya langsung sewaktu di mobil. Sambil tersenyum Azzam menjawab, kalau semua orang itu punya prinsip hidupnya sendiri, dan prinsip hidup Azzam adalah berdasarkan Agama. Dan Agama Islam sangat menjaga kesucian, baik lahir maupun batin. Kalau dia ciuman berarti hal itu merusak kesucina batin, yang menciumnya dan yang diciumnya. Trus Azzam juga bilang kalau dia gak takut dibilang malu, gak jamani,bahkan primitif sekalipun. Mendengar pemaparan Azzam tentang ciuman yang ternyata bukan hadiah malah musibah, putri kedubes itu sedih dan menjadi terngiang-ngiang ditelinganya. Bersambung.........
Suatu malam, hati tukang tempe itu berangakat ke rumah Ustad Mujab, ceritanya sih mau silaturahmi. Sesampai disana, Azzam blak-blakan kalau dia suka sama putri kiyai dari Pulo Harjo itu, tapi sayang, Ustad Mujab alias Pa’enya Anna sekaligus langganan tempenya itu langsung gak setuju mentah-mentah. Lagian Azzam juga so soan banget suka sama Anna. Waktu itu terdengar suara Ustad Mujab, “ Kamu udah kenal sama Anna, pernah liat wajah Anna, pernah liat photonya”, Dengan nada kurang dari dua puluh koma sekian hetz mungkin orang yang jarak nya 2 m dari tempat Azzam diintrogasi gakkan kedengeran, Azzam bilang “ Belum”. Ustad Mujab yang sekaligus konsumen tempe itu langsung sewot. “ Kamu ini bagaimana Zam, mencintai orang yang sama sekali kamu gak mengenalnya kamu begitu mantap mencaintai dia, trus berdasarkan apa kamu suka sama dia?” sambil nunduk Azzam menjawab pertanyaan yang begitu paaanjang dan menegangkan, “Pirasat aja Ustad”, Azzam bersuara. Setelah mendengar jawaban Azzam yang tidak ilmiah itu, Ustad Mujab langsung bilang dengan nada dan kata-kata yang pedes bah gledek disiang bolong. Begini kira-kira ucapan Ustad Mujab dengan penambahan seperlunya, “ Kalau aku jadi orang tua Anna, ketika ada dua orang pemuda yang datang melamar, yang satu serius belajar dan yang satunya lagi sibuk meracik tempe dan memebulatkan bakso, aku akan milih yang serius belajar, bukan niatku menyinggungmu tapi supaya kamu lebih relistis”. Azzam langsung pulang setelah tau usahnya tidak membuahkan hasil, mau ngehitbah eh malah dapet pesanan tempe dari Istri Ustad Mujab.lumayan……gak laku orangnya juga, laku-laku tempenya. Jalannya mirip prajurit yang kalah perang dari medan pertempuran.
Ketika itu, temennya bawa temen ke kosannnya, yang ternyata, dia adalah penjahat yang dicari polis Mesir, untung Azzam mengambil keputusan yang akurat sesaui dengan perkiraan, mesti ditentang sama temennya, katanya dalam rangka menghoramti tamu, tapi sebagai pemimpin yang bijak, katanya emang aku gak bisa menghormati tamu, akhirnya selesai juga diskusi singkat itu dengan keputusan Wail atau penjahat itu gak nginep.
Malam harinya….
Sedang enak-enakan tidur. “ Dor-dor-dor “, terdengar suara pintu yang dominant pake kaca sebagai bahan bakunya, jadi duaranya kaya embakan pistol jadul. Yang tentunya suara itu mengganggu istirahat malam seluruh isi kamar. Ada-ada aja ya….
Akhirnya Azzam membukakan pintu. Polis itu langsung masuk dan menaanyakan Wail, karena tegang ada temen Azam yang punya kisah tragis dengan bedil akhirnya dia “gubrak”pingsan. Untung Wail udah pergi gak jadi nginep. Tapi dasar polis, susah untuk diajak kompromi dan sering curigaan, hee..sama aja ya kalau polis mah dimana-mana juga kaya gitu. Terus pas dia ke dapur, orang yang punya hobi nilang ini menemukan barang yang jarang beredar di Mesir, agak lama dia ngeliatnya, diraba, dicium, untung gak langsung dijilat kaya oreo. Dikira barang terlarang, eh ternyata kacang dianyam alias tempe. Akhirnya petugas yang kebanyakan gak disenangi orang itu pergi dengan tangan hampa.
Keesokan harinya. Temen yang malam pingsan dirawat di rumah sakit, yang jenguk juga berdatangan, gak ketinggalan Adik dan pacar yang punya nama Antoni dalam film KENDI.
Sepulang dari rumah sakit, Azzam dapet surat dari adinya. Yang isinya “ Mas Azam, kalau uang buat DP motor tuh gak usah mendingan buat biaya brobat Sarah aja”. Begitulah kira-kira isi surat yang tulis oleh penulis Menari Bersama Ombak itu, Sarah adalah adik ketiga Azzam. Azzam hanya bisa tersenyum sambil megang surat yang baru saja dibaca.
Malem harinya, disaat temen-temennya tetidur lelap, Azzam malah sibuk meracik tempe, buat nambah-nambah penghasil biaya kuliah dan transper uang buat keluarga. Rajin banget ya…..
Keesokan harinya. Karena udah jodoh mungkin, mirip pribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba, gak nyangka-nyangka ketemu sama sidia, tapi sayang waktu itu belum tau kalau pemilik nama Anna Althofunnisa itu yang nanya toko buku di bis. Tapi kesempatan buat jadi pahlawan akhirnya datang juga. Waktu itu, putri dari Kiayai Pulo Harjo dan temennya dapet musibah, kecopetan dan kitab-kitabnya tertinggal di bis trus gak punya ongkos buat pulang lagi, lengkap sudah musibahnya, mirip sudah jatuh tertimpa tangga. Untung Azzam segera datang, dan akhirnya bisnya bisa dikejar, ternyata tukang supirnya itu tukang kebut-kebutan sejak kecilnya. Pas diperiksa, ternyata kitab-kitabnya masih lengkap. Untung……. Merasa tugasnaya sudah selesai, trus tempat tinggal Anna sudah deket, Azzam pamitan. Karena Anna sangat berhutang budi dan kagum sama Azzam, putri Kiyai Luhfti ini nanya. ” Mas namanya siapa? Sambil lari menghampiri Azzam. ” Abdullah..” jawab Azzam sambil naik mobil, dia sengaja cepet-cepet karena takut pak supirnya minta tambah. Kejadian yang baru saja terjadi ternyata meninggalkan kisah yang begitu mendalam yang membuat kedua inget terus, bener ya kalau ada yang mengatakan, pandaang pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.
Siang itu, Nurmala jenguk abangnya yang kemarin pingsan dan sekrang sudah seperti bisa lagi. Di kosan cuma ada Hafiz, laki-laki yang naksir sama Nurmala, jadi dia yang bawa jamuan, air dan kue. Lagi asik ngobrol, Azzam datang pulang beli bahan baku adonan tempe. Saking gembiranya, Hafiz joget jempol sambil megang nampan, kalau dia udah caper, cari perhatian, tapi taunya ada mata yang memperhatikannya yaitu Azzam, sambil pura-pura gak bersalah Hafiz malu. Hee
Malam harinya...
Karena ujian sebentar lagi, Azzam jadi rajin ngapalin, tapi setan datang menggangu yang tadinya ngapalin, eh inget sama sidia yang ketemu di mobil. Kaya iklan pond, wajahmu memalingkan pikiranku. Tapi untung, Azam langsung beristigfar meminta ampunan kepada Allah SWT. Akhirnya Azzam lanjut ngapalin.
Keesokan harinya, lagi asik-asiknya mandi, ada telpon dari Eliana, tapi Azzam gak langsung nerima malah nerusin mandinya. Sewaktu bres mandi, temennya malah ngomelin karena Azam gak nerima telpon putri kedubes itu. Terus katanay siap tau kalu Eliana itu ngajak bisnis. Sambil tersenyum Azzam bilang kalu yang namanya rezeki itu sudah diatur di Lauhil Mahfudznya jadi gak bakalan ketuker, kalu emang sudah rejeki nanti juga nelpon lagi. Baru selesai bicara, telpon bunyi lagi, emang ternyata yang nelpon itu putri kedubes yang sebentar lagi mau ultah. Ternyata bener juga Eliana ngasih orderan kaluau dia pesen soto lamongan buat sajina ultahnya. Walaupun Azzam gak tau cara bikin soto lamongan tapi dia negak meyanggupi permintaan itu dengan syarat harganya dua kali harga bakso, katanya soto lamongan itu bumbunya lebih rumit, trus Azzam juga bilang kalau dia PMP (pedagang modal pas-pasan).
Sewaktu Azzam bilang soto lamongan, temen yang asli dari lamongan langsung mendekati Azzam sambil nanya. ” Bang, barusan sampean bilang soto lamongan?” ”Iya, barusan Eliana pesen soto lamongan, aku sanggupi aja”. ”sampean ini ngaur, batalkan aja bang, daripada acaranya ancur gara-gara soto lamongan, aku sendiri asli lamongan gak bisa bikin”,” Tapi, Ibumu bisakan”,” Iya”, ” Tanyain, bumbu-bumbuya apa, cara bikinnya bagaimana, pulsanya biar aku yang bayarin”, ” Aduh gawat”. Begitulah isi kongres insidental yang membahas tentang soto lamongan.
Bgitulah kira-kira isi dari film KCB 1 versi Suhendar. Hee
Oiya, film ini mengandung banyak pelajaran, mulai dari bagaimana kita menjalani hidup ini, jangan malas dalam usaha dan kerja keras, hadapi hidup ini dengan optimis, bersikap tegas menjadi orang yang paling tua, setiap kemauan pasti ada jalan, pokoknya film ini,,,the best.
Tapi, ada sayangnya, film ini dirusak keindahannya oleh segelintir orang yang menjadikan film ini jadi ringan dan tidak berbobot, sama dengan sinetrom-sonetron murahan, seandai-andai bukan karya yang mahal harganya. Seperti yang kita lihat sekitar jam setengah enam di salah satu statsiun TV swasta.